Berita Sekolah

Kusta Bukan Kutukan, Penyintas Tak Boleh Dikucilkan

Senin, 5 Oktober 2026 • Admin Sekolah • 3 kali dilihat

Kusta Bukan Kutukan, Penyintas Tak Boleh Dikucilkan

Para pelajar diajak memahami fakta medis tentang kusta sekaligus menjadi agen perubahan untuk menghapus stigma dan diskriminasi terhadap para penyintas di lingkungan masyarakat.

Penyakit kusta disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae dan bukan diakibatkan oleh kutukan, dosa, maupun penyakit keturunan. Penularannya pun membutuhkan kontak dekat dalam jangka waktu yang sangat lama, bukan melalui kontak singkat seperti bersalaman.

Fakta medis inilah yang ditekankan ketika SMAN 1 Jepara menjadi tuan rumah penyelenggaraan Seminar dan Kampanye Percepatan Eliminasi Kusta pada Rabu (30/9) pekan lalu.

Kampanye edukatif yang bertujuan menghapus stigma di masyarakat ini dihadiri Kepala Disdikpora Kabupaten Jepara, Perwakilan Pengurus Besar PGRI Endang Yuliastuti, delegasi dari Sasakawa Health Foundation, dan diikuti oleh ratusan murid sekolah setempat.

Dalam arahannya, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Jepara Ratib Zaini mengingatkan para pelajar untuk memaksimalkan masa mudanya dengan kegiatan positif.

"Gunakan waktu belajar dengan baik sembari senantiasa berbakti kepada Tuhan, orang tua, dan guru di sekolah," pesan Ratib.

Pada kesempatan yang sama, Kepala SMAN 1 Jepara Puji Rahayu menegaskan pentingnya mewujudkan lingkungan pendidikan yang inklusif dan aman dari perundungan. Beliau secara khusus menyoroti pandangan keliru di masyarakat mengenai penyakit kusta.

"Penderita kusta tidak perlu dikucilkan. Kusta bisa disembuhkan, jadi mari kita hilangkan stigma negatif yang beredar di masyarakat. SMAN 1 Jepara harus menjadi sekolah inklusif yang menghargai setiap perbedaan," tegas Puji.

Selanjutnya, narasumber yang juga merupakan Guru SMAN 1 Jepara Riski Rian Azan menjelaskan lebih jauh mengenai deteksi dan penanganan penyakit kusta atau yang juga dikenal sebagai Morbus Hansen ini.

"Kusta dapat disembuhkan dengan tuntas melalui pengobatan Multi Drug Therapy (MDT) yang disediakan secara gratis di Puskesmas. Tanda awal yang perlu diwaspadai adalah munculnya bercak putih atau merah pada kulit yang mati rasa atau tidak terasa jika disentuh," papar Riski.

Seminar ini berlangsung interaktif dengan adanya sesi tanya jawab antara murid dan narasumber. Acara ini juga menghadirkan testimoni langsung dari Orang yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK) yang membuktikan bahwa mereka dapat sembuh dan kembali menjalani kehidupan normal.

Melalui kampanye ini, generasi muda Jepara diharapkan mampu menjadi agen perubahan dalam menciptakan lingkungan sosial yang peduli, berempati, dan bebas dari stigma terhadap pasien kusta.