SMAN 1 Jepara menggelar sesi orientasi kokurikuler bertema Kewirausahaan Digital (digipreneur) dengan menghadirkan dua figur praktisi muda di aula sekolah, Senin (7/9).
Kegiatan ini ditujukan untuk membekali para murid kelas X dan XI agar mampu melihat peluang ekonomi kreatif berbasis teknologi sejak bangku sekolah.
Kedua narasumber yang dihadirkan yakni Alifta Zulfa Farisa, alumni SMAN 1 Jepara yang berprofesi sebagai pembawa acara (MC) profesional sekaligus pemilik bisnis wedding organizer (WO) Kalarona dan usaha persewaan perlengkapan acara, dan Muhammad Roykhan Rashif Aulia, seorang pemengaruh (influencer), mantan Duta Genre, sekaligus praktisi hukum.
Dalam pemaparannya, Alifta menekankan pentingnya membangun personal branding dan keberanian memulai usaha tanpa harus terbebani persoalan modal materi. Menceritakan perjalanannya merintis usaha sejak usia sekolah melalui sistem dropship hingga kini memiliki puluhan aset bisnis perlengkapan pesta dan jenama fesyen, ia meminta para murid membuang rasa rendah diri.
"Modal terbesar bukan uang dari orang tua, melainkan niat, keterampilan, dan passion. Mulai sekarang, ubah pola pikir kalian. Manfaatkan media sosial bukan sekadar untuk menonton atau scrolling, melainkan menjadi pelaku—baik sebagai konten kreator, desainer, maupun affiliate marketer," tegas Alifta.
Sementara itu, Muhammad Roykhan Rashif Aulia yang akrab dipanggil Roy, membedah formula dasar seorang digipreneur, yakni integrasi antara ide pemecahan masalah, pemanfaatan teknologi, inovasi produk, dan aksi nyata (action). Roy mengingatkan bahwa digitalisasi membuka akses pasar tanpa batas asalkan pelaku usaha mampu membaca kebutuhan konsumen di sekitarnya.
"Wirausaha bukan hanya soal mencari untung instan, tetapi soal kepekaan membaca masalah sosial di lingkungan sekitar lalu menghadirkan solusi kreatif. Kuncinya ada pada perluasan relasi dan kemampuan mengemas produk agar memiliki nilai tambah yang unik," ujarnya
Antusiasme peserta terlihat saat kedua pemateri mengajak perwakilan siswa kelas XI melakukan simulasi perancangan produk dan promosi digital di atas panggung. Berbagai gagasan bisnis spontan bermunculan, mulai dari layanan pesan-antar kopi untuk komunitas pelajar hingga digitalisasi pemasaran produk furnitur khas Jepara.
Melalui orientasi ini, pihak sekolah berharap para murid tidak hanya menguasai teori di dalam kelas, namun memiliki bekal kemandirian finansial dan literasi digital praktis selama pelaksanaan program kokurikuler dua pekan ke depan.