Berita Sekolah

Nalar Kritis Murid Berawal dari Pola Pikir Guru

Selasa, 7 Juli 2026 Admin Sekolah 1 kali dilihat

Nalar Kritis Murid Berawal dari Pola Pikir Guru

Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah III Provinsi Jawa Tengah Bapak Budi Santosa, S.Pd., M.Pd., M.Si.

Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah III Provinsi Jawa Tengah Bapak Budi Santosa, S.Pd., M.Pd., M.Si. mendorong para guru di SMAN 1 Jepara untuk mengubah paradigma mengajar dari sekadar pentransfer ilmu menjadi fasilitator yang mampu merangsang nalar kritis murid.

Hal tersebut disampaikannya dalam Pelatihan Griyaan atau In-House Training Pembelajaran Mendalam dan Sosialisasi Kurikulum SMAN 1 Jepara, Selasa (7/7).

Dalam arahannya, Kacabdin menegaskan bahwa implementasi kurikulum saat ini memberikan fleksibilitas yang menuntut kreativitas tenaga pendidik. Menurutnya, pendekatan atau pembelajaran mendalam adalah kunci untuk menjawab tantangan pendidikan modern.

"Guru dituntut untuk terus berinovasi dan beradaptasi dengan kemajuan teknologi, termasuk pemanfaatan kecerdasan artifisial untuk mendukung berpikir komputasional murid. Di samping itu, pemahaman terhadap karakter murid harus menjadi dasar pengajaran," jelasnya.

Senada dengan hal tersebut, Pengawas Pembina SMAN 1 Jepara Udik Agus Dwi Wahyudi yang turut membedah materi pembelajaran mendalam menyoroti pentingnya guru untuk memiliki kerangka berpikir tingkat tinggi. Menurutnya, nalar kritis murid tidak akan terbentuk apabila gurunya sendiri belum mengadopsi pola pikir tersebut.

"Guru harus mulai membiasakan dengan evaluasi yang menggali daya nalar murid, seperti memperbanyak soal esai. Hindari jebakan memberi soal asesmen yang hanya berorientasi pada kepraktisan guru, tetapi abai pada proses pendalaman pemahaman murid," tegasnya.

Lebih lanjut, ia menekankan esensi pembelajaran berdiferensiasi dan pendidikan karakter. Guru diimbau untuk tidak menyamaratakan standar pada anak yang memiliki kecepatan belajar berbeda.

Selain penguasaan akademik, Udik mengingatkan bahwa karakter guru di dalam kelas sangat menentukan keberhasilan pembelajaran.

"Menciptakan suasana kelas yang ramah dan positif, sekadar lewat senyuman, sapaan yang tulus, serta menghindari pelabelan buruk pada siswa, adalah fondasi utama yang sering diremehkan namun sangat krusial," pungkas Udik.

Melalui pelatihan griyaan ini, para tenaga pendidik SMAN 1 Jepara diharapkan dapat segera merancang dan mengimplementasikan modul ajar yang lebih adaptif, humanis, dan berorientasi penuh pada keberhasilan karakter serta nalar kritis siswa masa kini.