Berita Sekolah

Soal Hafalan Tak Lagi Relevan, Guru Diminta Perkuat HOTS

Rabu, 15 Juli 2026 Admin Sekolah 0 kali dilihat

Soal Hafalan Tak Lagi Relevan, Guru Diminta Perkuat HOTS

Guru-guru SMAN 1 Jepara didorong untuk meninggalkan model asesmen berbasis hafalan dan mulai memperkuat soal-soal yang mengukur kemampuan berpikir tingkat…

Guru-guru SMAN 1 Jepara didorong untuk meninggalkan model asesmen berbasis hafalan dan mulai memperkuat soal-soal yang mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi atau Higher Order Thinking Skills (HOTS).

Langkah ini dinilai penting untuk meningkatkan kemampuan literasi siswa sekaligus mempersiapkan mereka menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA). Penguatan tersebut menjadi salah satu fokus dalam Pelatihan Griyaan Peningkatan Kompetensi Guru dan Penguatan Integritas dan Implementasi Pembelajaran yang digelar SMAN 1 Jepara, Rabu (15/7).

Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber Widyaprada Ahli Madya Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Provinsi Jawa Tengah, Sri Hartati, M.Pd.

Kepala SMAN 1 Jepara Puji Rahayu dalam sambutannya menekankan pentingnya kegiatan ini sebagai langkah antisipatif dan analisis menjelang pelaksanaan TKA pada bulan Oktober mendatang. Ia juga mengajak seluruh guru untuk membedah hasil Rapor Pendidikan sekolah agar kesadaran untuk terus memperbaiki mutu pendidikan di SMAN 1 Jepara semakin meningkat.

Dalam paparannya, Sri Hartati menyoroti sejumlah temuan penting dari Rapor Pendidikan SMAN 1 Jepara, di antaranya indikator baru terkait kesiapsiagaan bencana dan penurunan kemampuan literasi siswa. Menurutnya, salah satu persoalan mendasar yang dihadapi siswa saat ini adalah rendahnya daya tahan membaca (reading endurance).

"Anak-anak kita tidak tahan membaca soal dengan stimulus panjang. Mereka terbiasa mengambil shortcut, langsung melompat ke pertanyaan dan menebak jawaban tanpa membaca teks secara utuh," jelas Sri Hartati di hadapan para guru.

Temuan tersebut sejalan dengan hasil evaluasi yang disampaikan sejumlah guru. Murid masih kerap mengalami kesulitan ketika menghadapi soal TKA yang memuat teks panjang, grafik, tabel, maupun bentuk Pilihan Ganda Kompleks yang membutuhkan kemampuan analisis dan penalaran.

Karena itu, Sri Hartati menekankan perlunya perubahan paradigma asesmen di sekolah. Guru tidak lagi cukup memberikan soal-soal yang hanya mengukur kemampuan mengingat atau menghafal materi, melainkan perlu menyusun asesmen yang menuntut siswa menganalisis, mengevaluasi, dan memecahkan masalah berdasarkan stimulus yang disajikan.

Sebagai langkah pembenahan, ia merekomendasikan pembiasaan membaca minimal 15 menit setiap hari atau menuntaskan satu buku dalam satu semester bagi siswa kelas X. Selain itu, seluruh guru mata pelajaran didorong untuk memperbanyak penggunaan stimulus kontekstual berupa teks, grafik, tabel, maupun kasus nyata dalam kegiatan asesmen.

Implementasi kegiatan kokurikuler juga diharapkan lebih diarahkan pada pemecahan masalah lintas disiplin ilmu sehingga dapat melatih kemampuan berpikir kritis dan kolaboratif siswa. Dengan strategi tersebut, sekolah berharap kemampuan literasi dan HOTS murid meningkat, sekaligus berdampak positif terhadap hasil TKA dan capaian Rapor Pendidikan SMAN 1 Jepara.