Guru perlu memahami kebutuhan psikologis anak agar mampu mendampingi tumbuh kembang peserta didik secara optimal. Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan Obor Deso yang diselenggarakan Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Provinsi Jawa Tengah di aula SMAN 1 Jepara, Rabu (29/7).
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro, Novi Qonitatin, mengatakan anak memiliki kebutuhan psikologis yang harus dipahami oleh orang tua maupun guru. Menurutnya, terdapat empat aspek penting dalam pendampingan anak, yakni memahami kebutuhan anak, menciptakan rasa aman, mendengarkan secara aktif, dan memberikan pendampingan yang tepat.
“Anak ingin didengar dan dipahami. Guru perlu menciptakan lingkungan yang aman secara psikologis agar anak tidak takut menyampaikan pendapat atau kesulitan yang dihadapinya,” kata Novi.
Ia menambahkan bahwa kemampuan regulasi emosi dan ketahanan diri merupakan bekal penting bagi anak dalam menghadapi berbagai tantangan di masa depan.
Kegiatan yang mengusung tema “Temani Tumbuhnya, Dengarkan Suaranya, Lindungi Masa Depannya” itu diikuti sekitar 150 guru dari berbagai jenjang pendidikan di Kabupaten Jepara serta disiarkan secara daring melalui kanal YouTube BBGTK Jawa Tengah.
Kepala BBGTK Provinsi Jawa Tengah Darmadi dalam sambutannya menegaskan pentingnya peran guru dalam mendampingi tumbuh kembang anak. Menurutnya, tugas utama guru adalah membentuk peserta didik menjadi generasi yang pintar sekaligus berkarakter.
“Guru tidak hanya menjadi sumber ilmu, tetapi juga harus menjadi teladan. Anak-anak membutuhkan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam penggunaan teknologi dan media sosial,” ujar Darmadi.
Ia juga mengingatkan pentingnya membatasi penggunaan gawai oleh anak serta memperkuat kolaborasi antara keluarga, sekolah, masyarakat, dan media sebagai empat pusat pendidikan yang memengaruhi perkembangan anak.
Sementara itu, narasumber lainnya, perwakilan Mitra Muda UNICEF Indonesia Kristina Setianingrum, menekankan pentingnya pemenuhan hak anak dan keterlibatan anak dalam proses pendidikan. Menurutnya, anak perlu diberi ruang untuk menyampaikan pendapat serta dilibatkan dalam berbagai kegiatan yang mendukung pengembangan potensi mereka.
“Anak bukan hanya objek pendidikan, tetapi juga harus menjadi subjek yang didengar suaranya. Kolaborasi keluarga, sekolah, dan masyarakat sangat diperlukan untuk menciptakan lingkungan yang aman dan membahagiakan bagi anak,” ujarnya.
Pada sesi diskusi, para peserta mengangkat berbagai persoalan yang dihadapi di sekolah, mulai dari perilaku remaja di era digital, penggunaan media sosial, pelanggaran tata tertib sekolah, hingga layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus. Para narasumber menekankan pentingnya pendekatan yang humanis, komunikasi yang terbuka, serta kolaborasi dengan orang tua dalam menyelesaikan berbagai persoalan tersebut.
Ketua panitia kegiatan, Dita Monika Sekarini, menjelaskan bahwa Obor Deso merupakan program inovasi BBGTK Jawa Tengah yang dikemas dalam bentuk talk show hybrid. Program ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan pemahaman guru melalui diskusi interaktif dan edukatif.
“Harapannya para guru mendapatkan wawasan baru dan praktik baik yang dapat diterapkan di sekolah masing-masing untuk mendukung tumbuh kembang anak secara optimal,” ujarnya.