Lapang dada menjadi kunci kebahagiaan yang sesungguhnya. Kesuksesan harus diawali dengan kebahagiaan dalam diri, bukan sekadar mengejar jabatan atau kekayaan.
Pesan tersebut disampaikan Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) SMAN 1 Jepara Sufiati dalam kegiatan Kajian Remaja Islam Masa Kini (Kreasi) yang berlangsung di aula sekolah, Jumat (31/7).
Menurut Sufiati, kebahagiaan tidak ditentukan oleh status sosial, jabatan tinggi, maupun banyaknya harta yang dimiliki seseorang. Menjadi presiden atau memiliki banyak uang bukan jaminan untuk hidup bahagia. Sebaliknya, kebahagiaan lahir dari sikap rida, syukur, dan hati yang lapang dalam menerima setiap ketentuan Allah swt.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengajak para murid mengamalkan doa Nabi Musa a.s., “Robbisyroh li sodri wa yassir li amri wahlul ‘uqdatan min lisani”, yang bermakna memohon kelapangan dada, kemudahan urusan, dan kelancaran dalam berbicara.
Selain itu, Sufiati menyampaikan tiga pedoman hidup yang dapat menjadi bekal bagi generasi muda, yaitu tidak meratapi masa lalu, tidak takut menghadapi masa depan, serta menghargai waktu yang dimiliki saat ini. Menurutnya, ketiga hal tersebut dapat membantu seseorang menjalani kehidupan dengan lebih tenang, optimistis, dan penuh rasa syukur.
Melalui kegiatan Kreasi ini, para murid diharapkan mampu menerapkan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari sehingga dapat meraih kesuksesan sekaligus kebahagiaan yang hakiki.