Berita Sekolah

Enam Dekade Lebih Mengabdi, Para Sesepuh Datang ke Sekolah Kembali

Sabtu, 1 Agustus 2026 Admin Sekolah 0 kali dilihat

Enam Dekade Lebih Mengabdi, Para Sesepuh Datang ke Sekolah Kembali

Wajah-wajah yang pernah mengukir sejarah panjang SMAN 1 Jepara kembali dipertemukan dalam tasyakuran HUT ke-63 hari ini

Sabtu pagi, 1 Agustus 2026, Ruang Multimedia SMAN 1 Jepara tidak hanya dipenuhi suara salam dan tepuk tangan. Ruangan itu juga dipenuhi kenangan.

Satu per satu para kepala sekolah terdahulu, sesepuh, pengurus komite, guru, dan tendik memasuki ruangan. Wajah-wajah yang pernah mengukir sejarah panjang SMAN 1 Jepara kembali dipertemukan dalam tasyakuran Hari Ulang Tahun (HUT) ke-63 sekolah yang akrab disebut Smansara itu.

Di antara mereka hadir mantan kepala sekolah dari berbagai periode, mulai dari Pak Soewardi H.P., Pak Sugeng Hidayat, Pak Noor Ralim, Pak Edi Prayitno, Pak Nur Yahya, hingga pengawas sekaligus kepala sekolah sebelumnya, Udik Agus Dwi Wahyudi.

Bagi sebagian guru muda dan murid yang hadir, mereka mungkin hanya nama yang tercatat dalam sejarah sekolah. Namun pagi itu, nama-nama tersebut hadir dalam sosok nyata yang pernah membangun, merawat, dan membesarkan Smansara hingga menjadi sekolah yang dikenal masyarakat Jepara.

Kepala SMAN 1 Jepara Puji Rahayu tampak tak mampu menyembunyikan rasa harunya saat menyambut para sesepuh.

Ia menyebut usia 63 tahun bukan sekadar angka yang menandai perjalanan waktu, melainkan akumulasi dari perjuangan panjang yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

"Usia 63 tahun itu adalah akumulasi dari setiap detik waktu yang telah diperjuangkan dengan penuh tanggung jawab oleh masa lalu kita," ujarnya.

Kalimat itu seolah menjadi benang merah seluruh rangkaian acara. Di hadapan guru dan tendik yang masih aktif bertugas, Puji mengajak seluruh warga sekolah memahami bahwa capaian yang dinikmati hari ini berdiri di atas pondasi yang dibangun oleh banyak tangan selama puluhan tahun.

Tepuk tangan panjang pun mengiringi penghormatan kepada para sesepuh yang hadir.

Suasana hangat semakin terasa ketika Pengurus Komite Sekolah, Sutarya, mendapat kesempatan menyampaikan sambutan. Sosok yang telah mendampingi perjalanan sekolah selama bertahun-tahun itu mengaku dirinya sudah menjadi bagian dari Komite Sekolah sejak beberapa kepala sekolah terdahulu memimpin Smansara.

Dengan nada ringan yang sesekali mengundang tawa hadirin, ia menegaskan bahwa kekuatan SMAN 1 Jepara lahir dari sinergi berbagai pihak.

"Komite selalu mendukung dan membackup apa yang digagas oleh sekolah. Kita harus terus bersinergi dan bahu-membahu," ujarnya.

Namun momen paling emosional hadir saat Udik Agus Dwi Wahyudi berdiri menyampaikan sambutan.

Alih-alih berbicara dari podium, ia memilih berdiri dekat tumpeng yang telah disiapkan di tengah ruangan. Ia kemudian mengajak seluruh hadirin menengok kembali perjalanan panjang sekolah melalui deretan nama kepala sekolah yang pernah memimpin SMAN 1 Jepara sejak awal berdiri.

Satu per satu nama itu disebut.

Mulai dari Pak Rustiyono, Pak Wahyudi, Pak Suyoto Siswohadiputro, Pak Abu Bakar, Pak Apolonius Mulyadi, Pak Soewardi H.P., Pak Sugeng Hidayat, Pak Noor Ralim, Pak Heri Purwanto, Pak Edi Prayitno, Pak Udik sendiri, Bu Ngaripah, Pak Nur Yahya, Bu Ida Fitriningsih, hingga kepala sekolah saat ini, Puji Rahayu.

Setiap nama diiringi kisah.

Ada cerita tentang kedisiplinan, tentang pembangunan gedung, tentang inovasi seragam sekolah, tentang perjuangan meningkatkan mutu pendidikan, hingga kenangan personal yang membuat hadirin berkali-kali tertawa.

Namun di balik tawa itu tersimpan pesan yang dalam, sebuah sekolah besar tidak lahir dalam semalam.

"Kehebatan sekolah tidak hanya dibangun oleh warga sekolah saat ini, tetapi juga dibangun mulai dari awal berdirinya sekolah," kata Udik.

Menurutnya, sejarah bukan sekadar kumpulan nama atau dokumentasi masa lalu. Sejarah adalah pembelajaran yang harus menjadi pijakan untuk menatap masa depan.

Dalam kesempatan itu, ia juga menyampaikan optimisme bahwa Smansara sedang berada pada momentum yang tepat untuk terus berkembang.

"Saya berharap ini menjadi zaman keemasan SMAN 1 Jepara," ujarnya yang langsung disambut tepuk tangan meriah.

Puncak refleksi berlangsung ketika Soewardi H.P., salah satu sesepuh dan mantan kepala sekolah, diminta menyampaikan pesan kepada generasi penerus.

Suaranya tenang, namun sarat makna.

Ia mengingatkan bahwa inti peringatan ulang tahun bukan sekadar merayakan bertambahnya usia, melainkan melakukan muhasabah atau evaluasi diri atas perjalanan yang telah dilalui.

"Kita harus mengingat dan melanjutkan apa yang telah kita prestasikan serta meraih apa yang belum tercapai," katanya.

Soewardi kemudian mengingatkan prinsip yang ia sebut tetap relevan sepanjang zaman: jangan pernah meninggalkan sejarah.

Mengutip pesan Presiden Soekarno, ia menyampaikan istilah "Jasmerah", jangan sekali-kali melupakan sejarah.

Pesan itu terasa begitu kuat mengingat para pelaku sejarah sekolah sedang duduk bersama di ruangan yang sama.

Ada yang dulu memimpin sekolah dua dekade lalu. Ada yang pernah menjadi guru, kasubag tata usaha, pengurus komite, hingga pengawas. Kini mereka berkumpul bukan sebagai pejabat atau pemegang jabatan, melainkan sebagai keluarga besar Smansara.

Menjelang akhir acara, seluruh hadirin menundukkan kepala. Doa dipanjatkan untuk para kepala sekolah, guru, karyawan, alumni, dan keluarga besar SMAN 1 Jepara yang telah mendahului.

Suasana hening menyelimuti ruangan.

Di usia ke-63 tahun, tasyakuran itu akhirnya menjadi lebih dari sekadar seremoni. Ia menjelma ruang pertemuan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Di satu sisi duduk para sesepuh yang telah menorehkan jejak panjang pengabdian. Di sisi lain hadir guru-guru muda, perwakilan OSIS dan MPK yang kelak akan melanjutkan cerita.

Dan pagi itu, di Ruang Multimedia SMAN 1 Jepara, semua seperti dipersatukan oleh satu keyakinan yang sama, bahwa Smansara hari ini berdiri kokoh karena perjuangan banyak orang, serta akan terus melangkah berkat generasi yang siap meneruskan estafet itu.