Menyeramkan. Seluruh pengunjuk rasa termasuk Kepala Sekolah dan seorang aktivis LSM tewas dalam aksi demonstrasi menentang kebijakan Sistem Pendidikan Nasional di SMAN 1 Jepara, pada Sabtu malam (23/7). Bahkan petugas yang menembaki para pengunjuk rasa turut menjadi korban meninggal dunia karena sempat dihajar oleh massa sebelum akhirnya berhasil menembakkan sisa-sisa peluru di pistolnya.

Kejadian di atas hanyalah salah satu adegan yang dipertontonkan dalam pementasan Teater Biassukma dengan judul "Lit" yang diadakan dalam rangka HUT SMAN 1 Jepara ke-48. Bertempat di Aula SMA setempat, cerita yang disutradarai oleh Yoga Yogie, siswa kelas XII yang baru lulus ini, berhasil mendapat apresiasi luar biasa dari penonton yang memadati ruang pertunjukan. Sesekali terdengar tepuk tangan dan tertawaan penonton karena jalan ceritanya yang benar-benar menggambarkan potret pendidikan kita saat ini.

Cerita dibuka dengan monolog oleh Lit (diperankan oleh Papan Irkham), murid SMAN RSBI RAP, yang mempertanyakan mahalnya biaya pendidikan, kondisi degradasi moral masyarakat, politisi busuk, hingga para pemimpin yang korup. Ocehan Lit yang diperagakan sambil memegang rokok dan dalam kondisi mabuk berat didengar oleh Kepala Sekolah (diperankan oleh Noky Rozki Samudra) yang langsung bereaksi dengan memintanya untuk menghentikan ocehannya itu. Namun karena yang dikatakan Lit benar-benar merupakan cerminan apa yang selama ini dilakukan oleh kebanyakan para peminpin, termasuk para pimpinan sekolah, Kepala Sekolah kesulitan menjawabnya. Dengan diprovokasi oleh aktivis LSM di bidang pendidikan (diperankan oleh Subhan Fahmi), Kepala Sekolah terus saja berdebat kusir dengan mengemukakan alasan-alasan yang susah diterima oleh Lit. Hingga akhirnya datanglah sekelompok pengunjuk rasa yang memprotes kebijakan-kebijakan sekolah, utamanya tentang biaya di tinggi di sekolah-sekolah berlabel RSBI. Meskipun pada akhirnya Kepala Sekolah memutuskan untuk membebaskan seluruh biaya pendidikan di sekolah tersebut, demonstrasi berakhir ricuh karena arogansi petugas yang menembakkan pelurunya hingga mengakibatkan tewasnya seluruh pengunjuk rasa.

Di samping "Lit", juga dipentaskan teater yang sama dengan judul "Tak Ada Bintang di Dadanya". Cerita ini mengisahkan tentang keprihatinan Pak Hasan (diperankan oleh Farakhi), seorang guru agama, yang pada suatu malam bermimpi anak-anak didiknya menjadi berandalan. Tentu saja keprihatinan itu beralasan, karena apa yang disaksikan dalam mimpinya sangat jauh dari yang selama ini ia ajarkan. Namun mimpi itu hanyalah bunga tidur. Tepat di hari ulang tahunnya, Pak Hasan justru mendapatkan kado spesial dari anak-anak didiknya berupa foto yang dipigura lengkap dengan bintang-bintang penghargaan di dadanya. Namun bintang-bintang itu ia lepas, karena menurutnya seorang guru tidak boleh mengharap penghargaan apapun kecuali harapan kepada anak didiknya untuk mengamalkan ajaran-ajaran yang telah disampaikannya.{jcomments on}