Lebih dari 150 remaja memenuhi Ruang Multimedia SMAN 1 Jepara kemarin (17/8). Mereka berpartisipasi dalam Bioskop Remaja 2013 yang diselenggarakan oleh Komunitas Anak Muda Sinema Smansara "KAMERA" dan Yayasan Kampung Halaman Yogyakarta.


Menurut ketua panitia dan aktivis KAMERA Ary Ardhian, acara tesebut diselenggarakan untuk memperingati Hari Remaja Internasional dan HUT Kemerdekaan RI ke-68. Selain itu juga untuk meramaikan HUT SMAN 1 Jepara ke-50.

Acara yang berlangsung dari pukul 9.00 hingga 12.00 WIB itu diisi dengan pemutaran film pendek atau video diary dan diskusi oleh para peserta.

Dari 33 video diary yang dihasilkan oleh 31 Komunitas Remaja seluruh Indonesia, panitia memutar 7 video yang bertemakan Pendidikan dan Lapangan Pekerjaan. Salah satu video diary yang diputar adalah karya KAMERA Jepara sendiri berjudul IPA, IPS, Bahasa.

Video diary tersebut menyuarakan kegalauan remaja di lingkungan sekolahnya saat menentukan jurusan yang dipilihnya. Ada remaja yang memilih jurusan sesuai dengan minat dan kemampuan masing-masing, namun banyak pula yang hanya ikut-ikutan teman-temannya.

Bahkan, ada yang memilih jurusan karena desakan orang tua.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum Gunawan dalam tanggapannya mendukung pesan yang disuarakan oleh anak didiknya. Ia meyakinkan agar tidak perlu khawatir atas jurusan atau peminatan yang telah dipilih.

Diskusi yang pada awalnya bersumber dari video diary yang diputar akhirnya berkembang hingga isu-isu yang dialami para remaja di sekolahnya. Salah satu yang banyak dirasakan adalah tentang tindakan diskriminasi yang mereka alami.

"Proposal untuk mengikuti kegiatan lomba-lomba olahraga nggak gampang di-acc. Beda kalau yang diajukan itu bidang akademik," curhat Shella, salah satu aktivis basket di sekolahnya.

Begitu pula perbedaan pandangan terhadap jurusan tertentu. Salah satu jurusan mendapat perhatian yang lebih, sementara siswa yang ada di jurusan lain kurang diperhatikan.

Ilham Baihaqy, salah satu alumni yang hadir mencoba memberi solusi tentang masalah ini.

"Jika tidak mau mendapatkan diskriminasi, tunjukkan prestasi. Jangan hanya orasi," tukas mantan aktivis ekstrakurikuler Pecinta Alam ini.

Di akhir acara, mereka membacakan hasil diskusi atas tema yang dipilihnya.

Mereke menuliskan, "Belajar tidak hanya di bangku sekolah. Belajar bisa di mana saja. Kami bangga mau belajar. Bukan hanya sebagai pelajar dan Berhenti mengeluh. Syukuri apa yang didapat."