Toleransi antarumat beragama saat ini tidak cukup dilakukan dalam bentuk saling menghargai saja, melainkan harus peduli saat pemeluk agama atau keyakinan lain perlu mendapatkan bantuan. Sikap peduli dapat diwujudkan, misalnya, dengan membantu mereka mendapatkan hak-haknya.

Toleransi harus terus dipupuk dengan senantiasa mencari persamaan-persamaan yang dimiliki. Sebab bila yang dimunculkan hanya perbedaannya saja, kerukunan akan mustahil diwujudkan.

Pendapat itu disampaikan jurnalis Suara Merdeka Muhammadun Sanomae saat diskusi usai pemutaran film dokumenter tentang kepercayaan Ahu Parmalim di Ruang multimedia SMAN 1 Jepara, Sabtu (25-11-2017). Film yang diproduksi oleh Yayasan Kampung Halaman Yogyakarta ini diputar untuk memeringati Hari Toleransi Internasional dan Hari Guru Nasional.

Muhammadun menilai momentum pemutaran film ini tepat karena belum lama ini Mahkamah Konstitusi memutuskan para penganut kepercayaan dapat mencantumkan aliran kepercayaan di kolom agama saat membuat KTP.

Penanggap lain, Tarsisius Adi Prasetya, berpendapat bahwa keteguhan dalam iman seseoranglah yang akan membuat hidupnya damai. Meskipun ekonominya sederhana, namun kehidupannya tidak akan menjadi beban, dan dapat menikmati apa saja.

“Penganut Parmalim di film, Carles Butar Butar, menunjukkan bahwa iman terhadap agama yang dianutnya sangat kuat, meski ia berada dalam mayoritas kaum kristiani,” tutur guru Pendidikan Agama Katolik SMAN 1 Jepara.

Salah seorang pelajar kelas 12 yang juga penanggap diskusi, Salamatul Ummah, merasakan atmosfer yang sama dengan  toleransi yang selama ini dibiasakan di SMAN 1 Jepara. Satu contoh toleransi yang ia maksud adalah saat para muslim menunaikan ibadah Sholat Jumat, pemeluk agama lain di sekolah juga menjalankan ibadah sesuai agamanya masing-masing.