Gawai saat ini telah menjadi kebutuhan primer bagi generasi jempol, sebutan bagi remaja yang melakukan aktivitas komunikasi menggunakan gawai berlayar sentuh. Sikap sekolah terhadap tren penggunaan gawai di sekolahpun berbeda-beda. Ada sekolah yang melarang peserta didik membawa gawai, namun tidak sedikit pula yang membolehkannya.


Menurut Kepala SMAN 1 Jepara Udik Agus Dwi Wahyudi, hal yang perlu dilakukan saat ini justru pemanfaatan gawai dengan sebaik-baiknya, bukan melarangnya. Hal itu dikatakannya saat memberikan sambutan sekaligus membuka kegiatan Fasilitasi Pengembangan Mobile Learning di Ruang Multimedia SMAN 1 Jepara, Jum’at pagi (29/4).

Ia mengharapkan agar para guru mengambil peran positif tersebut dengan cara mengembangkan media ajar yang memanfaatkan gawai yang dapat digunakan peserta didik untuk belajar pada saat sekolah maupun di luar jam sekolah.

Hal itu selaras dengan yang disampaikan oleh Manikowati, narasumber dari Balai Pengembangan Multimedia Pendidikan dan Kebudayaan (BPMPK) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, yang menyampaikan sebelumnya bahwa pemanfaatan teknologi pembelajaran merupakan terobosan yang harus dikembangkan dalam upaya mencapai tujuan instruksional. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan gawai.

“Pemerintah melalui BPMPK Kemdikbud berupaya membuka pintu agar gawai digunakan secara positif di sekolah-sekolah,” katanya saat memberikan sambutan.

Kegiatan fasilitasi oleh BPMPK ini diikuti oleh 20 guru SMP, SMA, dan SMK di Kabupaten Jepara dan akan berlangsung hingga Sabtu (30/4). Selama 2 hari fasilitasi, peserta belajar sekaligus praktik membuat aplikasi pembelajaran berbasis Android.

Selain di Jepara, kegiatan serupa juga dilaksanakan secara serentak di 9 kabupaten dan kota di Jawa Tengah yaitu Cilacap, Kendal, Pekalongan, Demak, Kudus, Salatiga, Magelang, Temanggung, dan Purworejo.