Peringatan Hari Pahlawan hendaknya dijadikan sebagai cermin atau refleksi tentang pengorbanan, keteladanan, dan keteguhan untuk menggapai harapan masa depan dengan terus bekerja dan bekerja dalam rangka mewujudkan masyarakat adil dan sejahtera.

Ini sesuai cita-cita perjuangan bangsa yang termuat dalam sila kelima Pancasila yang berbunyi Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, juga sebagai momentum dalam rangka menumbuh kembangkan nilai-nilai persatuan, kepahlawanan, keperintisan, dan kesetiakawanan sosial.

Pesan tersebut disampaikan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMAN 1 Jepara Agus Rijadi yang membacakan teks pidato Menteri Sosial Republik Indonesia pada Upacara Hari Pahlawan di lapangan sekolah setempat, Selasa (10/11).

"Penyelenggaraan peringatan ini menjadi penting sebagai bentuk penghargaan atas jasa dan pengorbanan para pahlawan dan pejuang untuk mewujudkan kemerdekaan dan menjaga tetap utuhnya negara kesatuan Republik Indonesia," lanjut Agus di depan seluruh peserta upacara.

Hari Pahlawan kali ini mengambil tema Semangat Kepahlawanan Adalah Jiwa Ragaku. Makna tema tersebut adalah untuk menginternalisasi jiwa semua anak bangsa agar nilai kepahlawanan terpatri dan merasuk ke dalam sanubari yang paling dalam untuk meneladani sifat-sifat kepahlawanan yaitu rela berkorban, tanpa pamrih, bekerja keras, jujur, berani demi kebenaran serta patriotik.

Saat ini bangsa Indonesia sedang menghadapi tantangan persatuan, kebutuhan, dan produktifitas bangsa. Berbagai konflik intoleransi antar umat bergama, berkembangnya faham radikalisme, tawuran antar kampung maupun antar pelajar, maraknya penyalahgunaan narkoba, kekerasan terhadap anak dan perempuan ini jauh dari apa yang dicita-citakan dan diperjuangkan oleh para pendiri bangsa.

Panitia Sembilan BPUPKI, Soekarno, Mohammad Hatta, Wahid Hasyim, Mohammad Yamin, Abdul Kahar Mudzakkir, Agus Salim, Abikusno Tjokrosoejoso, AA Maramis, dan Ahmad Subarjo mewariskan Pancasila yang memuat lima norma dan nilai-nilai sebagai dasar negara, sebagai ideologi pemersatu bangsa, juga sebagai spirit kegotong-royongan dalam bermasyarakat dan bernegara.

Di akhir teks pidatonya, Menteri mengajak segenap rakyat Indonesia untuk memberikan penguatan semangat dalam menghadapi setiap ujian yang dihadapi negara ini. Agar momentum ini dijadikan sebagai langkah baru untuk membangun keyakinan dan optimisme bangsa Indonesia untuk dijadikan landasan revolusi karakter bagi bangsa Indonesia menjadi bagsa yang maju dan bermartabat.