Menilai sosok RA Kartini tidak cukup hanya melalui foto populer pahlawan perempuan dari Jepara ini. Meski dalam kebanyakan foto wajah Kartini tampak lemah lembut, tidak demikian dengan pemikiran-pemikirannya yang progressif, bahkan cenderung memberontak.

Hal inilah yang melatarbelakangi penulisan buku tentang Kartini berjudul "Pemberontakan Di Atas Kertas" oleh Djoko Widijanto, pegiat Sejarah dari Surabaya. Buku tersebut dikupas langsung oleh penulisnya dalam Sarasehan memperingati Hari Kartini di SMAN 1 Jepara, Selasa (21/4).

Dalam bukunya, alumni SMAN 1 Jepara ini menulis bahwa Kartini melawan segala bentuk penindasan  terhadap perempuan melalui tulisan dan pemikirannya. Meski demikian, selama hidupnya ia tidak pernah ingin dijadikan pahlawan bila ia meninggal kelak.

Dengan bahasa yang gamblang, Kartini juga berbicara mengenai politisasi sosial, budaya dan keagamaan terhadap perempuan. Hal inilah yang kemudian mengubah cara pandang pelaku penindasaan saat itu, yaitu para pejabat kolonial Hindia-Belanda dan pemerintah struktural yang ada di bawahnya.

Sarasehan yang mengangkat tema Kartini sebagai Inspirasi dalam Mewujudkan Generasi yang Cerdas dan Berkarakter ini juga diisi dengan sesi tanya jawab. Salah seorang peserta, Asyif Awaludin Romadhoni, menanyakan mengapa seringkali perempuan disalahkan karena kesalahan yang dilakukan anaknya. 

Secara diplomatis, Djoko menjawab bahwa perempuan yang cerdas pasti akan menurunkan anak yang cerdas pula. Tugas yang diemban perempuan tentu berbeda dengan laki-laki. Tidak seharusnya perempuan disalahkan, harus dilihat terlebih dahulu penyebabnya.

Sarasehan yang diikuti oleh pelajar SMAN 1 Jepara ini merupakan salah satu acara Peringatan Hari Kartini 21 April 2015 yang diselenggarakan oleh OSIS SMAN 1 Jepara. Selain sarasehan, panitia juga mengadakan lomba keluwesan, puisi, rias wajah, paduan suara dan fotografi.