Revolusi mental yang didengung-dengungkan Pemerintah saat ini sebenarnya telah diawali RA Kartini dengan mengubah cara pandang perempuan. Ia tidak hanya memberikan inspirasi bagi perempuan di Indonesia saja, namun juga ke seluruh dunia.

Demikian disampaikan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anak Yohana Susana Yembise di depan peserta Seminar Nasional "Membaca Ulang Pemikiran Kartini" di Pendopo Kabupaten Jepara, Sabtu (18/4).

Jepara juga disebutnya sebagai kota sejarah bagi perempuan, karena kelahiran Kartini di kota itu. Banyaknya perempuan yang saat ini menduduki posisi strategis juga tidak lepas dari pemikiran Kartini.

Menteri yang mendapat julukan Mutiara dari Timur ini juga menyinggung tentang kekerasan terhadap perempuan di Indonesia yang masih tinggi. Pernikahan dini disinyalir menjadi penyebab terbesarnya.

"Keluarga yang prematur, suami tidak siap, lalu meninggalkan keluarga. Istri berperan sebagai pencari nafkah di luar rumah namun banyak yang menjadi korban traficking. Akhirnya anak yang  menjadi korban," kata Yohana.

Untuk itu, Yohana mendukung industri rumahan yang telah banyak dilakukan oleh perempuan. Selain meningkatkan pemberdayaan perempuan, industri rumahan ini juga diharapkan  dapat mendukung pengembangan ekonomi kreatif secara nasional.

Seminar Nasional ini merupakan rangkaian Festival Kartini ke-3 Tahun 2015 yang bertujuan memberikan motivasi dan menggelorakan semangat masyarakat terhadap pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya bangsa.

Seminar dengan tema Membangun Masa Depan Berbasis Pengembangan Industri Kreatif ini dibuka oleh Wakil Gubernur Jawa Tengah Heru Sudjatmoko. Setelah menyampaikan paparannya, Menteri Yohana juga turut meresmikan Paket Informasi Publik tentang Perlindungan Anak yang dinisiasi oleh Kementrian Komunikasi dan Informatika.

Staf ahli Menkominfo Henry Subiakto yang tampil sebagai narasumber berikutnya menyebutkan bahwa penobatan Kartini sebagai pejuang emansipasi lebih disebabkan karena pemikiran-pemikirannya, bukan karena fisik atau tindakannya.

Ada 12 pemikiran Kartini yang melampaui masanya dan masih relevan hingga saat ini, di antaranya adalah pemikirannya tentang Ibu Pertiwi.

"Ibu merupakan simbol kekuatan perempuan karena dialah yang membesarkan anak-anaknya," jelas Henry.

Kartini, lanjut Henry, juga bercita-cita menjadi guru. Dengan begitu ia berkesempatan membentuk watak dan mengembangkan pikiran menjadi perempuan-perempuan masa depan. Bukan menjadi orang Eropa, namun sebagai Jawa Sejati.

Sebagai pribadi yang bangga terhadap kerajinan dan kesenian, aktivitas ekonomi kreatif Kartini mulai tampak saat Kartini menjual produk kerajinan ukir dan batiknya ke Belanda. Kartini menganggap semua usaha yang telah ia lakukan dapat menjadi benih yang mekar menjadi bunga yang menyehatkan bagi generasi mendatang.