Niat merupakan faktor terpenting yang mendorong seseorang untuk mendapatkan kesuksesan. Berbekal niat jugalah yang akhirnya membuat Anita mendapatkan apa yang diidam-idamkannya sejak kecil. 

Anita adalah sosok yang yakin benar bahwa niat yang selalu dipegang teguh akan membuat dirinya bersungguh-sungguh dalam mencapai tujuan. Saat masih duduk di bangku kelas 10, ia mulai menanamkan niat dengan mengikuti seleksi pertukaran antarbudaya AFS dan YES. Tujuannya satu, lolos ke Belanda. Berbagai tahapan proses dilewatinya. Hasilnya, ia berhasil lolos Seleksi Program YES ke Amerika Serikat!

Bersama 84 peserta lainnya dari Indonesia, Anita Munafia, siswi kelas 12 Bahasa SMAN 1 Jepara, akan berangkat ke negeri Paman Sam tanggal 11 Agustus 2014 mendatang. Ia akan berada di sana selama 10 bulan dan akan kembali ke Indonesia 20 Juni 2015.

Melihat sosoknya, orang akan mengenalinya sebagai anak periang. Coba saja ajak dia berbincang tentang musik rock dan basket kesukaannya, kita akan selalu melihatnya tertawa sambil mendengar cerita-ceritanya yang disampaikan dengan penuh percaya diri. Tetapi pada saat membicarakan tentang ibunya, ia akan melambatkan tempo bicaranya. Bahkan sesekali ia berhenti bercerita. Seperti membawa beban yang berat karena akan meninggalkan orang yang paling dikasihinya itu dalam waktu yang relatif lama.

“Kasihan Ibu. Kami sama-sama nggak bisa tidur sendiri. Nggak kebayang kalo besok kami tinggal berjauhan,” ujar putri pasangan Arif Darmawan dan Titin Sutini ini dengan terbata-bata.

Ibunya sangat bangga dan mendukung keberangkatannya. Meski sesekali menyampaikan keberatannya ditinggal Anita sendiri nantinya.

Kedekatan Anita dengan ibunya itu juga ia tuangkan dalam esai yang ditulisnya  sebagai salah satu syarat seleksi. Judulnya “If you can't trust your President, that's because you don't trust your parents”.

Dalam esainya ia ingin menyampaikan bahwa percaya sama orang lain itu susah meskipun setiap orang itu berhak untuk dipercaya. Untuk dapat percaya sama orang lain harus dimulai dari keluarga sendiri. Ia juga menekankan pentingnya keterbukaan dalam keluarga. Bila ada masalah apapun harus dibicarakan dan percaya dengan keluarga sendiri, terutama ibu.

Lewati Tahapan Seleksi Tersulit

Ia sendiri tidak menyangka waktu dinyatakan lolos seleksi oleh pihak YES. Meskipun hasil itulah yang diharapkannya. Perempuan kelahiran 10 Januari 1997 ini masih ingat betul bagaimana ia menjalani sesi diskusi dalam forum. Bagian ini menurutnya menjadi tahapan yang paling sulit di antara tahapan seleksi lainnya.

“Kita dituntut untuk aktif, tapi nggak boleh jadi dominan,” katanya.

Kini, Anita tinggal mempersiapkan apa yang akan dilakukannya selama 10 bulan di  Vermont, Amerika Serikat nanti. Di sana, ia akan melanjutkan sekolah di Leland and Grey United School, West Townshend. Yang paling membuatnya cepat-cepat ingin masuk sekolah karena kurikulum di sekolah itu mengajarkan memasak, mata pelajaran yang tidak pernah ia dapatkan di sekolah sini.

Nggak sabar ingin cepet-cepet masuk kelas Cooking,” ujar penyuka sayur-sayuran ini penuh harap.

Namun ia tidak akan melupakan tugas utamanya untuk mengenalkan budaya Indonesia dan membawa nama baik sebagai muslim yang cinta damai.

Anita juga sudah memiliki rencana sekembalinya ke tanah air nanti. Usai lulus SMA, ia ingin sekali melanjutkan kuliah di jurusan Hubungan Internasional Universitas Gajah Mada. Setelah itu ia ingin mewujudkan cita-citanya, menjadi Diplomat di Belanda.

Jangan-jangan setelah kembali dari Vermont, kamu malah ingin jadi Diplomat Amerika Serikat, An :)