Kurikulum 2013 yang menggunakan pendekatan student’s centered atau pembelajaran yang berpusat pada siswa mau tidak mau akan mengubah peran guru dan siswa.

Bila selama ini, guru seringkali menjadi satu-satunya sumber belajar, kini siapapun dapat menjadi sumber belajar, termasuk masyarakat dan lingkungan sekitarnya.

Hal ini mengemuka dalam Sosialiasi Kurikulum 2013 untuk Orang Tua Peserta Didik Baru yang diselenggarakan di Aula SMAN 1 Jepara, Selasa pagi (8/7).

Sosialisasi bertujuan agar orang tua memahami perubahan-perubahan yang terjadi pada kurikulum baru yang akan memasuki tahun kedua ini.

Dalam presentasinya, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum Ida Widiyastuti menyampaikan bahwa guru harus mampu berperan sebagai fasilitator dan sutradara di kelasnya, tidak hanya memberikan ceramah dan memberi perintah.

Sebagai fasilitator, guru harus dapat menjadi mitra dan memfasilitasi kebutuhan ilmu pengetahuan dari peserta didik.

Menanggapi peran guru yang tidak sentral ini, Rina, salah satu orang tua peserta didik yang hadir meminta agar guru tetap mendampingi peserta didik selama proses pembelajaran.

“Guru jangan hanya memberi tugas, lalu ditinggal begitu saja,” katanya.

Dalam acara yang berlangsung interaktif itu juga dijelaskan tentang prosedur pemilihan Peminatan. Meskipun peserta didik dan orang tua diberi kebebasan memilih peminatan yang disukainya, hasil akhir tetap akan ditentukan oleh sekolah dengan mempertimbangkan nilai rapor, nilai UN dan hasil tes psikologi.

Sekolah juga berharap peserta didik memilih Peminatan sesuai dengan kemampuan akademiknya dan tidak memaksakan masuk di peminatan tertentu.

Seperti diketahui, di Kurikulum 2013 peserta didik dapat memilih Peminatan sejak di kelas X. Berbeda dengan sistem penjurusan yang hanya mempelajari mata pelajaran sesuai dengan jurusannya, Kurikulum 2013 memungkinkan peserta didik untuk mempelajari mata pelajaran di luar peminatan melalui kelompok mata pelajaran Lintas Minat.