Kurikulum 2013 yang mengurangi jam tatap muka mata pelajaran Bahasa Inggris menjadi 2 jam pelajaran hendaknya tidak menjadikan masalah baru di sekolah. Hal serupa sebenarnya juga terjadi di Cina, karena pemerintahnya berpikiran tidak semua warganya akan ke luar negeri sehingga butuh Bahasa Inggris.

Hal itu dikemukakan Erica Balazs, salah seorang narasumber Smansara ECC Camp 2014 di sela-sela acara tersebut, Minggu (4/5).

Ia justru meminta agar guru di kelas memanfaatkan pendekatan pembelajaran yang harus diterapkan di Kurikulum 2013, yaitu pembelajaran yang terpusat pada peserta didik, bukan terpusat pada guru lagi. Dengan demikian, praktik percakapan dan menulis menggunakan Bahasa Inggris akan lebih banyak dilakukan murid ketimbang gurunya.

Staf pengajar di Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang (FBS Unnes) ini juga menyoroti fenomena banyaknya permintaan Native Speaker atau penutur asli yang dianggap dapat meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris siswa. Menurutnya, keberhasilan penguasaan Bahasa Inggris akan lebih efektif dilakukan melalui cara-cara peningkatan kualitas gurunya dibandingkan berharap dari kehadiraan penutur asli semata.

Native speakers are awesome, but not magic,” ujarnya.

Siswa juga sebaiknya dihindarkan dari pola pikir yang harus selalu menyamakan kemampuannya dengan penutur asli. Karena faktanya memang siswa itu bukan penutur asli.

Yang harus dibangun justru bagaimana caranya agar siswa selalu termotivasi oleh gurunya yang memiliki latar belakang yang sama, namun kemampuan berbahasa Inggrisnya baik.

Native speaker is just an extra bonus, not the main attraction,” tambahnya.

ECC Camp 2014 diselenggarakan oleh pegiat ekstrakurikuler English Conversation Club (ECC) SMAN 1 Jepara. Kegiatan yang baru pertama kali dilaksanakan ini diikuti oleh sekitar 45 peserta dari sekolah setempat dan berlangsung selama 2 hari sejak 3 Mei 2014 di Ruang Multimedia SMAN 1 Jepara.

Selain Erica Balazs, ECC Camp 2014 juga menghadirkan narasumber perwakilan AFS dari Bina Antarbudaya Semarang dan Elvina, salah seorang alumni sekaligus pengusaha.